HIDUP ADALAH KESEMPATAN, PERGUNAKANLAH…!
Ulangan 30:11-20
1. Pada saat saya mempersiapkan kotbah ini, saya sadar saya merasa masih belum sempurna mempergunakan kesempatan hidup yang dianugerahkan oleh Tuhan;
waktu masuk jalan persembahan, sering mengulur2 waktu Tuhan, ketika Tuhan jawab semua keinginan saya, tapi malah saya berkompromi dengan dunia, dan akhirnya mengalami kesulitan sendiri.
Pdt. Billy Graham pernah ditanya oleh seorang anak muda....
Mengapa diri saya yang dipilih oleh Tuhan untuk menjadi seorang pemuda Kristen... justru mengapa...sementara tawaran dunia begitu menggoda, sebaliknya saya dituntut...
- Untuk menghadapi badai hidup (tidak sabar)
- Untuk melawan tantangan zaman (berani berbeda) (harus tanyakan sama Tuhan)
- Untuk melayani Tuhan (dikecewakan) ---- semua tidak mudah
Pada saat ini saya ingin mengingatkan kepada saudara....
- Mari kita berjuang bersama, saya tidak berbeda dengan saudara...
- Kita berada di dalam perahu yang sama
- Stress yang sama
- Air mata yang sama
- Kegagalan yang sama
- Pergumulan yang sama
2. Pada saat pelayanan di Sby, di koran jawa pos terlihat catatan kecil dan gambar orang
yang membawa laptop maju ke depan Pdt yang beragama Sinto di Jepang untuk minta didoakan, agar komputer mereka tidak terkena virus, terihat Pdt menjamah komputer:
Catatan tsb menuliskan: ”sisi religius jepang rupanya tak sepenuhnya rontok oleh kepesatan prestasi teknologi”
Bagaimana sebenarnya yang dapat kita pelajari/analisa dari situasi ini sebagai pemuda Kristen yang hidup di dalam kemajuan teknologi dan juga pertumbuhan kerohanian??? ADA 2 SISI.....
Positif: menunjukkan bagaimana adanya kerinduan ditengah prestasi teknologi karena ada orang yang masih mementingkan agama, tentang manusia yang merasa di dalam kehidupannya agama itu ada yang penting di alamnya. Namun dari sisi...
Negatif: bahwa agama telah dijadikan sesuatu alat untuk memenuhi apa yang kita inginkan atau butuhkan, dalam pengertian supaya berjalan lancar komp di doakan agar tidak kena virus, agama melayani kebutuhan dan kepentingan kita..., untuk itu saya kuatir kondisi seperti ini dapat kita temui di dalam dunia maupun jemaat kita saat ini.
Zaman ini dianggap bahwa Tuhan seperti ban serep....kalau bocor, baru dipakai, jadi bukan kebutuhan utama. Demikian pemikiran ini kalau agama sekedar pemenuhan kebutuhan demi kepentingan pribadi, maka Allah itupun hanya bisa dijadikan ban serep, kalau saya butuh...?!
Inilah realita yang sedang kita hadapi, dunia yang menganggap bahwa kebutuhan terhadap Firman itu oke kalau saya sedang berlinangan air mata, sakit, dalam pergumulan, tapi kalau segala sesuatu lagi lancar FT tidak berarti apa2, dan saya kuatir sikap seperti ini juga bisa melanda saudara dan saya.
Di sisi lain bagaimana dengan tantangan dunia entertainment, melalui TV, acara2 lain. Ditambah lagi dengan pandangan2 hidup yang menganggap yang menentukan salah atau benar dalam hidup saya bukan Pdt, FT, tapi saya sendiri yang menentukan.
Di dalam dunia yang bebas ini manusia benci/tidak suka dengan otoritas, begitu juga di dalam kehidupan pemuda, yang merasa dirinya sudah mampu, memiliki segala hal, inilah kehidupanku.
Di dalam analisa saya orang-orang seperti itu mempunyai suatu pengharapan yang rendah sekali thd nilai kehidupan dan FT low expectation:
- Datang ke gereja dengan tidak mengharapkan apa-apa hanya sekedar kebiasaan dan kebutuhan karena saya perlu ke gereja
- Mendengar Firman Allah tidak dengan suatu penuntutan, kerinduan untuk mendengarkan apa yang ingin difirmankan Allah
- Bahkan tidak jarang kita menghindar...kabur...mencari kesibukan lain...yang tentunya penuh dengan sejuta alasan.
- Dan sebaliknya kita malah lebih tertarik kepada pemberitaan yang aneh2 melebihi keinginantahu terhadap FT, pada saat mau beribadah tergantung kepada satu alat musik tertentu, lagu2 yang harus terbaru, dll.
- Kalau perlu kotbah hanya 20 menit, 15 menit, atau tidak ada sama sekali.
Berapa banyak diantara kita yang menginginkan benar2 di dalam hati kita sesuatu pasti akan terjadi dalam hidup kita melalui FT yang kita dengar.
Walaupun adakalanya kita sudah mau mengenal ilmu-ilmu yang baik, musik yang berbeda, teologia yang benar, ada Kuriociti..., tapi apa artinya keinginantahu kita untuk belajar mengenal yang benar, tetapi tidak ada komitmen terhadap kebenaran tersebut di dalam kehidupan yang selama ini kita jalani.
Maka dengan demikian inilah letak permasalahannya; sebenarnya kita belum mengetahui dengan jelas...
Apakah sebenarnya arti kehidupan itu sendiri bagi kita?
Kesempatan apa saja yang ada di dalam kehidupan itu? Dan...
Mengapa kita harus mempergunakan kesempatan itu?
Selasa, 05 Januari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar