Selasa, 05 Januari 2010

PEMUDA DAN POSTMODERNISME

Banyak pengamat sosial sepakat bahwa dunia Barat sedang mengalami pergeseran atau perubahan. Hal ini dapat dibuktikan dengan perubahan budaya yang berlawanan dengan ciri khas zaman modern, jikalau logika dan rasio yang tadinya mempengaruhi pikiran/pengetahuan manusia, maka saat ini pengalaman dan perasaan lah yang lebih mempengaruhi pikiran/pengetahuan mereka. Dari kalangan seniman sampai cendekiawan terjadi perubahan besar di dalam hal pemikiran dan cara pandang mereka. Suatu penggambaran pergeseran atau perubaan fenomena budaya dengan lingkup dan aspek yang luas.
Para ahli menganggap postmodernisme merupakan penolakan terhadap cara pikir orang modern, dengan kata lain ada banyak cara yang sah menuju pengetahuan selain rasio, termasuk emosi, dan intuisi. Di dalam hal menilai kebenaran, generasi postmodern memusatkan kepada “apa yang dianggap benar dalam komunitas tertentu,” mereka menegaskan kebenaran hanyalah aturan-aturan dasar demi kesejahteraan komunitas tempat kita berada. Dengan demikian masyarakat postmodern cenderung menjadi sebuah masyarakat yang komunal (tidak individual).
Perubahan zaman menuju era postmodernisme sadar atau tidak disadari sedang dirasakan semakin mempengaruhi kebudayaan kita saat ini, bukan saja di dunia Barat tetapi di dunia Asia bahkan di sebagian daerah di Indonesia sudah dapat diketemukan. Dalam hal ini generasi pemuda sasarannya, kaum muda yang masih bersemangat untuk berkembang, energic, kaya dalam inovasi, semakin terhanyut dengan pemikiran-pemikiran postmodernisme.
Saat ini menjadi pertanyaan yang dapat kita diskusikan adalah sbb;

1. Apa yang dimaksud dengan era Postmodernisme ? Apa ciri-ciri dari era/zaman ini?
2. Apa korelasi/hubungan antara era Postmodern dengan kehidupan kekristenan sampai saat ini ?
3. Bagaimana keberadaan generasi pemuda remaja di zaman Postmodernisme ditinjau dari sudut pandang nilai dan gaya hidup?
4. Bagaimana melakukan pelayanan yang efektif untuk mejangkau orang-orang muda di era Posmodern ini?
5. Kira-kira faktor-faktor apa saja yang harus diperhatikan untuk menciptakan pelayanan yang berhasil bagi kaum muda di era postmodernisme? Bagaimana Injil dapat menjangkau mereka? (Ditinjau dari sudut pandang Alkitabiah)
6. Mengapa di zaman Postmodernisme ini persekutuan kaum muda banyak ditinggalkan? Apa saja kendala atau alasan yang sering dihadapi oleh gereja-gereja di zaman ini?
Era postmodernisme yang sedang merebak pada zaman ini sesungguhnya memiliki pengaruh yang kuat terhadap cara nilai dan cara pandang di dalam pemikiran manusia, secara khusus generasi pemuda yang sedang berkembang secara aktif di dunianya. Jikalau kita tidak bisa menyikapinya dengan cermat maka kita akan tergilas dengan arus era postmodernisme yang banyak mengaburkan nilai-nilai iman kekristenan yang sejati. Kebenaran semakin ditinggalkan, Ibadah dan persekutuan semakin tidak diminati, hidup bergantung kepada kehendak diri yang serba bebas.
Maka dari itu sebagai orang-orang muda, kita harus mempersiapkan dan membekali diri kita dengan pengetahuan kebenaran Firman Tuhan yang baik. Setia di dalam mengikuti Ibadah dan persekutuan yang diatur oleh gereja, tekun di dalam membaca Kitab Suci dan memiliki waktu berdoa secara pribadi. Sebagai orang Kristen kita juga harus bersandar dan mengandalkan hanya kepada Tuhan yang tidak pernah berubah di setiap perubahan zaman. Allah yang Hidup, Allah yang berkuasa, Allah yang setia. Tuhan memberkati !
HIDUP ADALAH KESEMPATAN, PERGUNAKANLAH…!

Ulangan 30:11-20


1. Pada saat saya mempersiapkan kotbah ini, saya sadar saya merasa masih belum sempurna mempergunakan kesempatan hidup yang dianugerahkan oleh Tuhan;
waktu masuk jalan persembahan, sering mengulur2 waktu Tuhan, ketika Tuhan jawab semua keinginan saya, tapi malah saya berkompromi dengan dunia, dan akhirnya mengalami kesulitan sendiri.
Pdt. Billy Graham pernah ditanya oleh seorang anak muda....
Mengapa diri saya yang dipilih oleh Tuhan untuk menjadi seorang pemuda Kristen... justru mengapa...sementara tawaran dunia begitu menggoda, sebaliknya saya dituntut...
- Untuk menghadapi badai hidup (tidak sabar)
- Untuk melawan tantangan zaman (berani berbeda) (harus tanyakan sama Tuhan)
- Untuk melayani Tuhan (dikecewakan) ---- semua tidak mudah
Pada saat ini saya ingin mengingatkan kepada saudara....
- Mari kita berjuang bersama, saya tidak berbeda dengan saudara...
- Kita berada di dalam perahu yang sama
- Stress yang sama
- Air mata yang sama
- Kegagalan yang sama
- Pergumulan yang sama

2. Pada saat pelayanan di Sby, di koran jawa pos terlihat catatan kecil dan gambar orang
yang membawa laptop maju ke depan Pdt yang beragama Sinto di Jepang untuk minta didoakan, agar komputer mereka tidak terkena virus, terihat Pdt menjamah komputer:
Catatan tsb menuliskan: ”sisi religius jepang rupanya tak sepenuhnya rontok oleh kepesatan prestasi teknologi”
Bagaimana sebenarnya yang dapat kita pelajari/analisa dari situasi ini sebagai pemuda Kristen yang hidup di dalam kemajuan teknologi dan juga pertumbuhan kerohanian??? ADA 2 SISI.....
Positif: menunjukkan bagaimana adanya kerinduan ditengah prestasi teknologi karena ada orang yang masih mementingkan agama, tentang manusia yang merasa di dalam kehidupannya agama itu ada yang penting di alamnya. Namun dari sisi...
Negatif: bahwa agama telah dijadikan sesuatu alat untuk memenuhi apa yang kita inginkan atau butuhkan, dalam pengertian supaya berjalan lancar komp di doakan agar tidak kena virus, agama melayani kebutuhan dan kepentingan kita..., untuk itu saya kuatir kondisi seperti ini dapat kita temui di dalam dunia maupun jemaat kita saat ini.
Zaman ini dianggap bahwa Tuhan seperti ban serep....kalau bocor, baru dipakai, jadi bukan kebutuhan utama. Demikian pemikiran ini kalau agama sekedar pemenuhan kebutuhan demi kepentingan pribadi, maka Allah itupun hanya bisa dijadikan ban serep, kalau saya butuh...?!
Inilah realita yang sedang kita hadapi, dunia yang menganggap bahwa kebutuhan terhadap Firman itu oke kalau saya sedang berlinangan air mata, sakit, dalam pergumulan, tapi kalau segala sesuatu lagi lancar FT tidak berarti apa2, dan saya kuatir sikap seperti ini juga bisa melanda saudara dan saya.
Di sisi lain bagaimana dengan tantangan dunia entertainment, melalui TV, acara2 lain. Ditambah lagi dengan pandangan2 hidup yang menganggap yang menentukan salah atau benar dalam hidup saya bukan Pdt, FT, tapi saya sendiri yang menentukan.
Di dalam dunia yang bebas ini manusia benci/tidak suka dengan otoritas, begitu juga di dalam kehidupan pemuda, yang merasa dirinya sudah mampu, memiliki segala hal, inilah kehidupanku.
Di dalam analisa saya orang-orang seperti itu mempunyai suatu pengharapan yang rendah sekali thd nilai kehidupan dan FT low expectation:
- Datang ke gereja dengan tidak mengharapkan apa-apa hanya sekedar kebiasaan dan kebutuhan karena saya perlu ke gereja
- Mendengar Firman Allah tidak dengan suatu penuntutan, kerinduan untuk mendengarkan apa yang ingin difirmankan Allah
- Bahkan tidak jarang kita menghindar...kabur...mencari kesibukan lain...yang tentunya penuh dengan sejuta alasan.
- Dan sebaliknya kita malah lebih tertarik kepada pemberitaan yang aneh2 melebihi keinginantahu terhadap FT, pada saat mau beribadah tergantung kepada satu alat musik tertentu, lagu2 yang harus terbaru, dll.
- Kalau perlu kotbah hanya 20 menit, 15 menit, atau tidak ada sama sekali.
Berapa banyak diantara kita yang menginginkan benar2 di dalam hati kita sesuatu pasti akan terjadi dalam hidup kita melalui FT yang kita dengar.
Walaupun adakalanya kita sudah mau mengenal ilmu-ilmu yang baik, musik yang berbeda, teologia yang benar, ada Kuriociti..., tapi apa artinya keinginantahu kita untuk belajar mengenal yang benar, tetapi tidak ada komitmen terhadap kebenaran tersebut di dalam kehidupan yang selama ini kita jalani.
Maka dengan demikian inilah letak permasalahannya; sebenarnya kita belum mengetahui dengan jelas...
Apakah sebenarnya arti kehidupan itu sendiri bagi kita?
Kesempatan apa saja yang ada di dalam kehidupan itu? Dan...
Mengapa kita harus mempergunakan kesempatan itu?

Senin, 04 Januari 2010

"PUSH PARENTING"

Di zaman yang disebut orang postmodernisme ini segala macam trend terus berkembang di dalam masyarakat. Mulai dari gaya rambut, busana,sampai make up. Mulai dari gaya arsitektur rumah sampai informasi teknologi seperti komputer, hanphone, dan sejenisnya. Begitu juga di dalam model pengasuhan anak (parenting) ternyata mempunyai trend/gaya tersendiri di zaman ini. Menciptakan dan memiliki anak yang “sempurna” menjadi salah satu agenda terpenting bagi kebanyakan orangtua di zaman ini. Mereka ingin memiliki keturunan yan terbaik di dalam generasi yang berikutnya, kalau bisa dapat melakukan segala hal. Para orang tua berambisi untuk memposisikan anak-anak mereka ke dalam kategori “kelas atas,””anak super,”maka untuk sistem pengasuhannya pun dilakukan harus secara khusus.
Jikalau sejak kecil mereka sudah dituntut untuk mengikuti begitu banyak les atau kursus yang hingga meniadakan waktu bermain mereka, maka sudah dapat dipastikan anak-anak memiliki tingkat tekanan/stres yang tersendiri di dalam dunianya. Ambisi orang tua yang melakukan pengasuhan terhadap anak-anak seperti ini akan berdampak kelak dalam kehidupan masa depan mereka. Bisa dibayangkan apakah orang tua yang menerapkan pengasuhan seperti ini (push parenting) akan benar-benar dapat menggali bakat ataupun kepintaran dari seorang anak? Apakah keberhasilan dari pengasuhan seperti ini juga akan menjadi keberhasilan bagi diri anak itu secara pribadi?
Semuanya itu tidak pernah lepas dari hasil dorongan, motivasi, dan proses belajar/pembentukan yang dimulai dari keluarga (ortu), sekolah/universitas (guru/dosen), ataupun pusat-pusat pelatihan (ahli/pakar) yang bertujuan untuk menggali kompetensi yang ada dalam diri setiap manusia. Tetapi masalahnya apakah dorongan, motivasi, dan proses pembelajaran itu sudah benar-benar tepat sesuai dengan pribadi seseorang yang menjalaninya?

Peranan orang tua di dalam pengasuhan anak sangatlah penting, terlebih penting bila orang tua dapat mengerti dan mengenal lebih dalam pribadi dari seorang anak sebagai ciptaan Tuhan yang unik. Tanpa ingin menekan dan memaksakan kehendak atau emosi orang tua terhadap masa depan seorang anak, itu sama artinya dengan mengajar mereka untuk menemukan karunia/telentanya sebagai mahluk ciptaan yang sempurna. Dengan demikian orang tua dapat memberikan teladan kepada anak untuk senantiasa mengucap syukur kepada Tuhan atas hikmat dan anugerah yang ada dalam diri setiap manusia.
KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (CULTURE AND DISORDER)


I. PENDAHULUAN

Suatu lembaga yang agung dan sangat dihormati Allah dan manusia adalah lembaga pernikahan. Di hadapan Tuhan lembaga ini sangat mulia dan dianggap penting bagi ciptaan yang serupa dan segambar dengan-Nya. Lembaga pernikahan memiliki makna kekudusan, kemurnian, dan janji yang harus dijalankan dihadapan Allah dan manusia (lih. mandat budaya dalam Kej.2:18-25), barangsiapa yang melanggar perjanjian tersebut maka ia telah berdosa dihadapan Allah dan sesamanya.
Pernikahan yang seharusnya dijalani dengan damai sejahtera Tuhan dan kesucian diri ternyata sudah banyak dilanggar oleh sebagian manusia. Tidak sedikit pasangan suami istri yang hidup pernikahannya ’tidak sehat’, walaupun dalam hal ini banyak faktor yang menyebabkannya. Secara khusus pada kali ini penulis akan membahas masalah kekerasan dalam rumah tangga yang dapat terjadi di dalam kehidupan pasangan suami dan istri. Kekerasan dalam rumah tangga dapat berupa secara verbal ataupun fisik. Konflik keras yang berkepanjangan, kata-kata yang mengintimidasi dan kotor, sampai kepada tindakan pemukulan dan penyiksaan, merupakan ciri-ciri kekerasan dalam rumah tangga.
Perubahan zaman yang dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta gaya hidup orang modern ternyata cukup menjadi dampak bagi kehidupan rumah tangga masa kini. Hubungan antar anggota keluarga cukup dipengaruhi oleh pergerakkan tren zaman yang sedang terjadi. Macam-macam alasan seperti, kesibukkan beraktifitas, kepadatan tugas dan tanggung jawab, dan kemudahan berfasilitas akan mempengaruhi intensitas hubungan antara anggota keluarga. Dapat digambarkan setiap alasan yang dikemukakan di atas:
- Aktifitas yang sibuk = mengurangi waktu berkomunikasi dengan anggota keluarga
- Tugas dan tanggung jawab yang berlebihan = kurang mempunyai kesempatan untuk kebersamaan dengan anggota keluarga
- Fasilitas yang mudah = sikap negatifnya akan lebih sering bersikap individualistis (acuh dengan anggota keluarga yang lain)
Dengan demikian permasalahan diantara pasangan suami istri di masa kini akan jauh lebih banyak dibanding dengan pasangan suami istri di masa-masa sebelumnya.
Permasalahan keharmonisan rumah tangga secara khusus bagi pasangan suami dan istri ini ternyata dialami oleh setiap lapisan masyarakat, dan tidak terkecuali dalam kehidupan pasangan suami dan istri yang beragama kristen. Jika dasar pernikahan mereka tidak kuat, maka pasangan kristen sekalipun akan menemukan masalah gangguan keharmonisan seperti ini.

II. Faktor Permasalahan

Permasalahan yang mungkin dapat terjadi di dalam kekerasan rumah tangga dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor ;
A. Kebudayaan
Dalam hal ini perubahan zaman dan kemajuan tenologi dan informasi sangat berperan. Sikap yang saling tidak menghormati, berbuat sesuka hati, gaya hidup tidak sopan, dan selalu memberontak, termasuk di dalam budaya kehidupan yang sedang terjadi.
1. Keluarga
Suatu budaya dasar yang akan membentuk kepribadian seseorang. Suasana, cara pandang, pengajaran, prinsip hidup, sangat ditentukan oleh latar belakang dari sebuah keluarga.

2. Lingkungan
Mencakup lokasi/tempat bersosialisasi dan zona nyaman seorang pribadi. Bila lingkungan baik maka kemungkinan pribadi orang tersebut juga akan baik, tetapi juga sebaliknya.

3. Pergaulan
Setiap orang membutuhkan pertolongan, perhatian, dan interaksi dengan orang lain, bila hubungan dengan sesama buruk maka ada kemungkinan pribadi juga menjadi buruk, tetapi juga sebaliknya.
B. Kelainan (Pribadi)
Pada bagian ini sangat berhubungan dengan kejiwaan seseorang, walaupun tetap ada beberpa faktor yang mempengaruhinya.

1. Garis Keturunan
a. Dosa asal manusia
Sebagai mahluk ciptaan, kita manusia menyadari ada bibit dan warisan dosa di dalam hidup, tetapi bagi orang yang percaya kepada Kristus, kita menjadi selamat. Tetapi tetap manusia ada kecenderungan untuk berbuat dosa. Maka dari itu setiap manusia bila tidak memiliki hati yang takut kepada Allah akan mudah jatuh ke dalam tindak kekerasan.
b. Sifat warisan
Di dalam garis keturunan walaupun tidak selalau, ada kemungkinan memiliki warisan sifat yang sama dengan generasi sebelumnya. Misal; jika orangtua suka berjudi maka anak ada kemungkinan meniru atau suka berjudi juga.

2. Pelecehan
a. Trauma
Latar belakang seperti ini sangat berbahaya bagi pembentukkan kepribadian seseorang. Apa yang pernah dialami oleh seseorang dahulu akan dibalaskan kepada orang lain. Bisa juga seseorang yang pernah mengalami trauma dapat melampiaskan kelemahan tersebut kepada orang lain.
b. Kekerasan/penindasan
Faktor ini juga sangat berperan terhadap kepribadian seseorang, ingatan seseorang akan tetap terukir dan mengakibatkan suatu pengalaman pahit yang harus dibalaskan kepada seseorang.

3. Sakit Jiwa
a. Stres/depresi
Mengenai gangguan kejiwaan ini ada yang disebabkan oleh masalah yang menghimpit dan bisa juga dikarenakan kelainan pada fungsi organ vital. Maka kondisi seperti ini dapat mengakibatkan seseorang dapat melakukan tindak kekerasan terhadap pasangannya.

Pada saat sebelum pasangan memutuskan untuk menikah, maka haruslah di dalam hubungan berpacaran (courtship), mereka harus saling mengenal satu sama lain (kerohanian, kepribadian, karakter, asal usul keluarga, pendidikan, dll.).
Dengan demikian kedewasaan di dalam hubungan mereka akan tercipta dan terbukti setelah melewati tahapan-tahapan tersebut. Terlebih lagi bila hubungan mereka diisi dengan pertumbuhan kerohanian dan pelayanan bersama kepada Tuhan. Setelah menikah keintiman pengenalan mereka barulah masuk ke dalam tahap yang semakin sempurna. Hal-hal seperti ini haruslah diberitahukan konselor kepada konsili pada saat melakukan konseling. Pertanyaan-pertanyaan seperti;
1. Apakah kalian sungguh sadar untuk tetap saling mengasihi berdasarkan Kasih Kristus?
2. Apakah kalian akan selamanya saling menguatkan dan menolong?
3. Apakah kalian menganggap pernikahan suatu hal yang kudus dihadapan Allah?
Mungkin dapat dilontarkan kepada pasangan tersebut, karena dapat membuat pasangan menjadi sadar akan kesalahan yang telah mereka lakukan.

VI. Penutup

Pernikahan akan menjadi suatu hal yang sangat indah bila pasangan menyadari apa makna dibalik membentuk sebuah keluarga dihadapan Allah. Mengingat mandat budaya, dua menjadi satu, suami mengasihi istri, istri menghormati suami, dan mereka haruslah saling menjadi berkat satu sama lain.

A. Arti Pernikahan
1. Kepentingan Allah
Banyak orang yang salah mengerti akan hal ini, pada saat ditanya alasan mengapa harus menikah, maka sebagian mereka menjawab karena faktor usia yang sudah matang, orangtua yang menyuruh, fasilitas yang sudah cukup, butuh pendamping, tuntutan biologis, dll.
Tetapi yang sesungguhnya adalah menikah merupakan kepentingan bagi Allah semata. Artinya adalah, jika kita diberikan kesempatan untuk membentuk sebuah keluarga, pembentukkan tersebut hanyalah untuk memuliakan Tuhan. Dari hubungan yang terbina dengan baik, keturunan dari setiap pasangan, pertumbuhan kerohanian keluarga, semuanya harus untuk memuliakan Tuhan.
2. Kepercayaan
Landasan dari pasangan untuk berkomitmen adalah kepercayaan, pasangan harus percaya kepada Tuhan sebagai kepala keluarga, pasangan juga harus saling percaya satu sama lain. Makna ini sangatlah dalam sifatnya karena kepercayaan di sini adalah menunjuk kepada pengharapan di dalam kasih.
3. Pengampunan
Janganlah mengharapkan kesempurnaan terhadap pasangan, tetapi haruslah saling menutupi dan menambahi dari kekurangan yang ada. Dengan demikian pasangan akan menjadi semakin sempurna dan dewasa di dalam berhubungan.
4. Penerimaan
Faktor penerimaan sangatlah penting, karena berhubungan dengan kasih yang rela berkorban terhadap pasangannya. Suatu bukti kasih yang totalitas terhadap pasangan dan memiliki makna ketulusan di dalamnya
5. Penguatan
Pasangan di dalam sebuah keluarga bertujuan untuk saling menolong dan menopang, bukan untuk saling menjatuhkan. Maka dari itu sangat dibutuhkan saling memberikan dorongan dan semangat di dalam seluruh aspek kehidupan.
MENENTUKAN PILIHAN YANG TERBAIK

Kehidupan di zaman yang serba kompetitif ini, setiap orang dituntut untuk memiliki kemampuan, bakat, atau keahlian yang dipercaya nantinya dapat menjadi modal untuk mencapai nilai keberhasilan. Pada saat ini pengandalan terhadap kepintaran, pengetahuan yang luas, mampu bekerja sama, ketekunan dan kerajinan, sangatlah menjadi faktor penentu dari masa depan karier seseorang. Maka tepat bila ada kalimat yang mengatakan “zaman ini adalah waktunya adu otak, bukan adu otot.”
Kesadaran untuk mempersiapkan diri demi menghadapi dunia yang semakin kompetitif ini seharusnya dilakukan sejak seseorang masih duduk di bangku sekolah, bahkan kalau memungkinkan sedini mungkin. Tujuannya adalah agar setiap orang memiliki motivasi dan visi di dalam menuntut ilmu, adanya keseriusan di dalam belajar, dan tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menggali ilmu yang baik di mana saja.
Ketika seseorang sesaat lagi akan selesai/lulus dari SMA, tidak sedikit ditemukan kondisi jiwa-jiwa yang sebenarnya labil, kebingungan, membutuhkan arahan, sulit untuk menentukan pilihan, akan melanjutkan kemana saya setelah ini? Jurusan bidang studi apa yang akan saya ambil? Bahkan cukup banyak diantara mereka yang berkata, bisakah saya melanjutkan studi saya selanjutnya?

Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang sering kita dengarkan;
1. Dikatakan zaman ini adalah zaman yang kompetitif/penuh persaingan, setiap
orang harus memiliki kemampuan, bakat, keahlian, untuk mencapai keberhasilan.
Apa signifikansi dari semua yang harus dimiliki oleh seseorang dan hubungannya
dengan zaman kompetitif ini?
2. Mengapa setiap kita harus dituntut untuk memiliki motivasi dan visi di dalam
menjalani hidup meniti karier?
3. Seperti yang tadi dikatakan, “zaman ini waktunya adu otak, bukan adu otot” tapi
mengapa masih ditemukan perkelahian atau konflik diantara pelajar/mahasiswa
bahkan karyawan di dalam perusahaan?
4. Sebelum kita menentukan untuk memilih, biasanya kita diperhadapkan dengan
beberapa pilihan. Apakah mempunyai terlalu banyak pilihan itu baik atau buruk?
Mengapa?
5. Di dalam memutuskan untuk melanjutkan studi atau karier, apa saja tips-tips yang
dapat diberikan di dalam menentukan suatu pilhan sesuai dengan keberadaan diri
seseorang?
6. Bagaimana agar kita dapat membuat pilihan-pilihan yang bijaksana di dalam
menjalani proses kehidupan yang dianugerahkan oleh Tuhan?

Keputusan-keputusan yang pernah diambil waktu dini sangatlah berdampak pada masa yang akan datang. Maka dari itu setiap orang harus mampu menentukan pilihan yang terbaik di dalam hidupnya, tentunya melalui pertolongan dan campur tangan Tuhan di dalamnya.

Sabtu, 02 Januari 2010

MELANGKAH DENGAN PASTI
Ulangan 11:7-12
Mazmur 119:133

Pada saat malam pergantian tahun baru setiap kita memiliki suatu resolusi (tekad), semuanya pasti ingin lebih baik di tahun yang baru. Pada saat itu (malam tahun baru) kita lebih menyadari segala sesuatu yang telah dilakukan oleh kita di sepanjang tahun. Saat ini kita hanya bisa melihat ke belakang dan mengingatnya, kita tidak bisa kembali ke masa itu.
Begitu juga dengan perjalanan bangsa Israel yang dicatat dalam kitab Ulangan, ada banyak suka duka, maju mundur dalam hal kerohanian, banyak kesempatan, kesalahan selama melakukan perjalanan tahun demi tahun menuju tanah perjanjian.
Musa sebagai pemimpin mereka pada saat itu kembali mengingatkan mereka (Ul. 11:7), sesungguhnya Allah telah melakukan perbuatan yang besar di sepanjang sejarah kehidupan mereka. Ada satu tujuan yang mereka tempuh, yaitu tanah perjanjian. Suatu negeri yang Tuhan telah siapkan dan Allah senantiasa memelihara mereka. Musa memberikan semangat kepada mereka untuk kembali melangkah dengan pasti di dalam menjalani kehidupan yang Tuhan Anugerahkan.
Permasalahannya adalah, bagaimana kita dapat melangkah dengan pasti dalam menjalani kehidupan ini..?

1. Lihat dan ingat perbuatan tangan-Nya dalam hidup kita (ayat 7)
a. Setiap orang percaya memiliki pengalaman rohani bersama dengan Tuhan (perlindungan,
pertolongan, pemeliharaan Tuhan)
b. Hidup kita adalah anugerah Tuhan
c. Apa yang ada dan kita miliki sampai saat ini adalah berasal dari Tuhan
d. Sampai di sini Tuhan tetap menyertai kita Ebenezer
e. Tuhan memiliki rencana yang indah bagi manusia

2. Tuhan adalah pengontrol hidup (ayat 12)
a. Jangan pernah takut akan masa depan
b. Jangan kita terbatas kepada rasio manusia tetapi fokus kepada karya Allah
c. Bagian manusia dengan beriman saja
d. Janji Tuhan pasti digenapi dalam hidup kita
e. Mari kita jalankan resolusi hidup kita di tahun yang baru

Sebagai orang percaya kita harus memiliki visi dalam hidup, visi yang berdasarkan Firman Tuhan, Rencana Allah, dan kehendak Allah. Dengan demikian kita dapat mampu melangkah dengan pasti tanpa kekuatiran dan rasa takut.
Selamat berjalan bersama Tuhan ! Buktikan karya-Nya dalam hidupmu!


Kamis, 31 Desember 2009

New Year's Resolution 2010

Happy New Year 2010!
Bersyukur untuk 1 tahun yang Tuhan telah pimpin, berharap untuk pemeliharaan Tuhan di tahun yang akan datang.

Resolusi di tahun yang baru :
1. Menyadari dan menghargai anugerah Tuhan
2. Memohon ampun atas kesalahan dan dosa kita kepada Tuhan
3. Memperbaiki hubungan dengan Tuhan dan sesama
4. Melanjutkan hidup dengan pertolongan Tuhan
5. Mengembangkan talenta dan pelayanan dengan lebih tekun dan bertanggungjawab

God Is In CONTROL