Senin, 04 Januari 2010

"PUSH PARENTING"

Di zaman yang disebut orang postmodernisme ini segala macam trend terus berkembang di dalam masyarakat. Mulai dari gaya rambut, busana,sampai make up. Mulai dari gaya arsitektur rumah sampai informasi teknologi seperti komputer, hanphone, dan sejenisnya. Begitu juga di dalam model pengasuhan anak (parenting) ternyata mempunyai trend/gaya tersendiri di zaman ini. Menciptakan dan memiliki anak yang “sempurna” menjadi salah satu agenda terpenting bagi kebanyakan orangtua di zaman ini. Mereka ingin memiliki keturunan yan terbaik di dalam generasi yang berikutnya, kalau bisa dapat melakukan segala hal. Para orang tua berambisi untuk memposisikan anak-anak mereka ke dalam kategori “kelas atas,””anak super,”maka untuk sistem pengasuhannya pun dilakukan harus secara khusus.
Jikalau sejak kecil mereka sudah dituntut untuk mengikuti begitu banyak les atau kursus yang hingga meniadakan waktu bermain mereka, maka sudah dapat dipastikan anak-anak memiliki tingkat tekanan/stres yang tersendiri di dalam dunianya. Ambisi orang tua yang melakukan pengasuhan terhadap anak-anak seperti ini akan berdampak kelak dalam kehidupan masa depan mereka. Bisa dibayangkan apakah orang tua yang menerapkan pengasuhan seperti ini (push parenting) akan benar-benar dapat menggali bakat ataupun kepintaran dari seorang anak? Apakah keberhasilan dari pengasuhan seperti ini juga akan menjadi keberhasilan bagi diri anak itu secara pribadi?
Semuanya itu tidak pernah lepas dari hasil dorongan, motivasi, dan proses belajar/pembentukan yang dimulai dari keluarga (ortu), sekolah/universitas (guru/dosen), ataupun pusat-pusat pelatihan (ahli/pakar) yang bertujuan untuk menggali kompetensi yang ada dalam diri setiap manusia. Tetapi masalahnya apakah dorongan, motivasi, dan proses pembelajaran itu sudah benar-benar tepat sesuai dengan pribadi seseorang yang menjalaninya?

Peranan orang tua di dalam pengasuhan anak sangatlah penting, terlebih penting bila orang tua dapat mengerti dan mengenal lebih dalam pribadi dari seorang anak sebagai ciptaan Tuhan yang unik. Tanpa ingin menekan dan memaksakan kehendak atau emosi orang tua terhadap masa depan seorang anak, itu sama artinya dengan mengajar mereka untuk menemukan karunia/telentanya sebagai mahluk ciptaan yang sempurna. Dengan demikian orang tua dapat memberikan teladan kepada anak untuk senantiasa mengucap syukur kepada Tuhan atas hikmat dan anugerah yang ada dalam diri setiap manusia.

Tidak ada komentar: